TRIBUNSOLOCOM, SUKOHARJO - Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Program Khusus (PK) Kartasura, Sukoharjo mengadakan Cultural Exchange From Japan, Sabtu (5/10/2019). Kegiatan Cultural Exchange From Japan ini adalah kegiatan dimana siswa dari Jepang dan Indonesia saling belajar budaya dari keduanya. Melibatkanperan serta orang tua siswa, masyarakat, dan pemerintah dalam mewujudkan visi sekolah. Perjalanan karirnya di dunia pendidikan adalah semenjak dirinya masih anak anak dengan mengenyam sekolah di madrasah ibtidaiyah Al Khoiriyyah yang saat ini sama dibawah naungan Yayasan Dahlan Al Maymunah, saat jenjang sekolah menengah pun KEDISIPLINANSISWA A. Deskripsi Teori 1. Hasil Belajar Ranah Kognitif Pada Pembelajaran Aqidah Akhlaq a. oleh peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah/ Sekolah Dasar. saling menghargai dan tepat janji) dalam kehidupan sehari-hari. 5) Memahami dan meyakini hakikat iman kepada qadla menjadisebuah karakter positif bagi setiap siswa. Pembelajaran kitab al-Akhlak lil Banat jilid 1 ini di terapkan di Madarasah Ibtidaiyah Darussalamah sumbersari untuk membentuk akhlak siswi mulai sejak dini, karena pelajaran ini diterapkan pada kelas 4 dan 5 Madrasah Ibtida'iyah. Menumbuhkankesadaran terhadap pengamalan ajaran islam ahlussunnah wal jama’ah serta berakhlakul karimah. Mengembangkan semangat kekeluargaan dan keteladanan. Mengembangkan kreatifitas pada seluruh warga madrasah. Fasilitas Pondok Pesantren Tempat Ibadah Sarana Olahraga Lab. Komputer Lab. IPA Audio Visual Perpustakaan Koperasi Sekolah SekolahMadrasah . Outcomes: Peran serta orang tua wali siswa untuk membesarkan Sekolah/Madrasah . 1.Membentuk organisasi orang tua/wali siswa. 1.Pembentukan kepengurusan komite, patembayan dan paguyuban. 2.Memberikan informasi program sekolah/madrasah kepada pengurus komite, patembayan, dan paguyuban. 2. Melibatkan Siswadiberi bimbingan sehingga tahu kepada siapa harus tunduk dan bagaimana tatacara berakhlak, sebagai ingkar janji, tidak adil, dendam, sombong, tamak, iri dan lain sebagainya. Al-Ghazali juga 167 Pendidikan Kecerdasan Spiritual di Madrasah Ibtidaiyah Terpadu (MIT) Nurul Islam, (Semarang: Walisongo, 2010), hal. 87. DiIndonesia, sebagaimana kita ketahui bersama, menuntut ilmu dapat dilakukan di berbagai lembaga pendidikan baik yang formal maupun nonformal, seperti sekolah-sekolah umum, madrasah-madrasah, hingga pondok-pondok pesantren. Madrasah, sebagaimana telah kita maklumi, menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan yang beragam. RoTMJ0X. Madrasah Ibtidayah, biasa disingkat MI, adalah jenjang pendidikan madrasah formal yang paling dasar yang memiliki kekhasan bercirikan Islam. Madrasah Ibtidaiyah di bawah pengelolaan Kementerian Agama dan memiliki jenjang yang setara dengan Sekolah Dasar. Menilik pada KMA Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Pada Madrasah, Madrasah Ibtidaiyah diartikan sebagai satuan pendidikan formal yang menyelanggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam yang terdiri dari 6 enam tingkat pada jenjang pendidikan dasar. Sebagaimana SD, lama pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah ditempuh selama 6 tahun. Yakni mulai kelas 1 sampai dengan kelas 6. Lulusannya pun bisa melanjutkan ke sekolah menengah pertama seperti SMP dan MTs. Berdasarkan data Kementerian Agama yang dirilis disitus Emis Pendis Kemenag, pada awal tahun 2020, terdapat Madrasah Ibtidaiyah se-Indonesia. Paling banyak terdapat di provinsi Jawa Timur dengan total MI, disusul dengan Jawa Tengah Jawa Barat Banten Sumatera Utara 974, Nusa Tenggara Barat 852, Lampung 765, dan Sulawesi Selatan 706. Baca Berapakah Jumlah RA & Madrasah di Indonesia? Apa Beda SD dan MI SD dan MI sama-sama jenjang pendidikan dasar. Bedanya SD dibawah pengelolaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang MI dikelola oleh Kementerian Agama. Yang paling ketara atara ciri khas MI sebagai pendidikan yang bercirikhas Islam. Kurikulum yang digunakan. Selain mengajarkan mata pelajaran 'umum' seperti di SD, MI menambahkan beberapa mata pelajaran khusus mulai dari Al-Quran Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Keempatnya masuk dalam kelompok mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang mana di SD hanya diajarkan melalui satu mapel. Selain itu, di Madrasah Ibtidaiyah juga diajarkan mata pelajaran Bahasa Arab. Pada beberapa Madrsah Ibtidaiyah, pelajaran agama tersebut masih ditambahkan dengan muatan lokal khusus terkait keagamaan sesuai dengan karakteristik madrasah dan linkungan masing-masing. Daftar Artikel Terkait Madrasah Ibtidaiyah Dalam blog Ayo Madrasah terdapat berbagai artikel bertemakan Madrasah Ibtidaiyah. Silakan simak dari daftar di bawah ini Artikel Terkait Madrasah Ibtidaiyah Klik masing-masing judul pada daftar di atas untuk membaca artikel terkait Madrasah Ibtidayah. Klik tombol panah ke kanan atau ke kiri untuk menuju artikel lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis persepsi guru dan siswa terhadap penerapan kebijakan pembelajaran jarak jauh di 3 madrasah ibtidaiyah. Data dikumpulkan dengan interview mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis interaktif yang dikemukakan oles Miles dan Hubermen. Hasilnya menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap penerapan kebijakan pembelajaran jarak jauh di madrasah ibtidaiyah berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa kebijakan ini merupakan pilihan yang tepat; Ada yang mengatakan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti kebijakan Pemerintah; Ada yang mengatakan bahwa pembelajaran jarak jauh ini sulit, dan lebih mudah tatap muka; Ada yang berpandangan bahwa setiap kebijakan pasti ada tujuannya, akan tetapi harus dilihat dari kondisi daerah masing-masing, jangan disamaratakan sehingga tidak merugikan semua pihak, dan; yang terakhir mengatakan ketidaksetujuannya atas penerapan kebijakan pembelajaran jarak jauh ini. Adapun, dalam hal efektif atau tidaknya pembelajaran jarak jauh ini, guru-guru di madrasah ibtidaiyah merasa bahwa pembelajaran jarak jauh ini kurang efektif, bahkan tidak efektif untuk dilakukan. Pasalnya, banyak keluhan-keluhan yang disampaikan orang tua murid kepada guru. Keluhan-keluhan tersebut merupakan faktor penghambat yang muncul akibat diberlakukannya pembelajaran jarak jauh. Sementara itu, persepsi siswa juga menunjukkan perbedaan. Ada yang setuju, ada pula yang tidak. Yang setuju berpandangan bahwa pembelajaran jarak jauh ini cukup efektif. Sedang yang tidak, berpandangan bahwa pembelajaran jarak jauh ini tidak efektif bahkan sangat tidak efektif untuk dilakukan To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication. Given the importance of understanding the holy book of the Qur'an in educational institutions such as Madrasah Ibtida'iyah MI, an effective learning method is needed, because it is known that there are still many phenomena of MI level students whose reading of the Qur'an is not good and many are from those who focus more on general subjects. Therefore, the purpose of writing this article is to describe a number of theoretical studies by taking references from books, journals, and other literature. As the results of the discussion of this article provide an overview and concept of the literature on how the Qur'anic learning model must be applied, namely; 1. The basic conception of learning the Qur'an; 2. Various methods of learning the Qur'an; 3. The importance of the Qur'anic learning method; 4. Development of relevant Qur'anic learning methods to be applied for MI students. Based on a number of theoretical discussions in this article, it is hoped that significant changes will occur for the improvement of MI students' knowledge in learning the Qur'an and for MI level education staff to apply the Qur'anic learning method for their students. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free p-ISSN 2657-1269 e-ISSN 2656-9523 Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah 36 Jurnal Auladuna URGENSI PEMBELAJARAN AL-QUR'AN BAGI SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH Fathor Rosi Faisal Faliyandra STAI Nurul Huda Kapongan situbondo fathorrosy1991stainh Abstract Given the importance of understanding the holy book of the Qur'an in educational institutions such as Madrasah Ibtida'iyah MI, an effective learning method is needed, because it is known that there are still many phenomena of MI level students whose reading of the Qur'an is not good and many are from those who focus more on general subjects. Therefore, the purpose of writing this article is to describe a number of theoretical studies by taking references from books, journals, and other literature. As the results of the discussion of this article provide an overview and concept of the literature on how the Qur'anic learning model must be applied, namely; 1. The basic conception of learning the Qur'an; 2. Various methods of learning the Qur'an; 3. The import ance of the Qur'anic learning method; 4. Development of relevant Qur'anic learning methods to be applied for MI students. Based on a number of theoretical discussions in this article, it is hoped that significant changes will occur for the improvement of MI students' knowledge in learning the Qur'an and for MI level education staff to apply the Qur'anic learning method for their students. Keywords Islamic Education, Al-Quran Learning, Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education Abstrak Mengingat akan pentingnya memahami kitab suci Al qur’an di lembaga pendidikan seperti Madrasah Ibtida’iyah MI maka diperlukan metode pembelajaran yang efektif, sebab diketahui masih banyak fenomena para siswa-siswi tingkat MI yang bacaan alqur’annya kurang baik serta banyak pula dari mereka yang lebih fokus terhadap mata pelajaran umum. Karena itu tujuan pada penulisan artikel ini memaparkan sejumlah kajian teoritis dengan mengambil referensi buku, jurnal, dan literatur lain. Sebagaimana hasil dari pembahasan artikel ini memberikan gambaran maupun konsep kepustakaan tentang bagaimana model pembelajaran Al qur’an yang harus diterapkan yakni ; dasar pembelajaran Alqur’an; 2. Macam-macam metode belajar Al qur’an ; 3. Pentingnya metode pembelajaran Al qur’an; 4. Pengembangan metode pembelajaran Al qur’an yang relevan untuk diterapkan bagi siswa MI. Berdasarkan sejumlah pembahasan teoritis dalam artikel ini maka diharapkan terjadi perubahan yang signifikan bagi peningkatan keilmuan siswa MI dalam pembelajaran Al qur’an serta bagi tenaga kependidikan tingkat MI menerapkan metode pembelajaran Al-qur’an bagi siswa-siswinya. Kata kunci Pendidikan Islam, Pembelajaran Al-Quran, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah PENDAHULUAN Kemampuan membaca dan Pembelajaran Al-Qur’an merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dan ditumbuhkembangkan bagi setiap individu Muslim, karena terkait langsung dengan ibadah keseharian. Hal ini menjadi argumentasi mendasar terkait keterampilan membaca sebagai prioritas pertama dan utama dalam pendidikan Islam khususnya bagi siswa di sekolah dasar seperti madrasah ibtidaiyah MI. Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Jurnal Auladuna 37 Jika kita lihat proses perkembangan pendidikan agama di Indonesia bahwa salah satu hambatan yang menonjol dalam pelaksanaan pendidikan adalah metode pengajaran Al-Qur’an. Sehubungan dengan penggunaan metode tersebut, kini di Indonesia terdapat beberapa metode dalam pengajaran membaca Al-Qur’an. Namun demikian metode yang digunakan saat ini dalam membaca Al-Qur’an untuk anak sekolah masih terbatas pada buku sebagai sumber dan sekaligus media pengajaran. Sebagai akibat kondisi seperti ini, maka timbullah permasalahan bahwa tidak sedikit anak-anak sekolah merasa bosan belajar Al-Qur’an yang menerapkan metode dan media seperti itu sehingga anak mengalihkan perhatiannya kepada yang lain yang dianggap lebih mudah menurut anak dan bahkan anak cenderung memilih yang lain yang tidak ada. Kebangkitan umat Islam abad ke-15 Hijriah, berawal dari pandai membaca Al-Qur’an dan menuliskannya/ Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Keberhasilan guru dalam menciptakan kondisi yang optimal dalam kegiatan belajar mengajar, Dengan demikian pendidikan dapat didefinisikan bahwa pendidikan adalah merupakan suatu usaha atau proses yang ditujukan untuk membina kualitas sumber daya manusia seutuhnya agar dapat melakukan perannya dalam kehidupan secara fungsional dan optimal. Pendidikan pada intinya menolong manusia agar dapat menunjukkan eksistensinya secara fungsional ditengah-tengah kehidupan manusia. Pendidikan demikian akan dapat dirasakan manfaatnya bagi mengajar itu adalah suatu teknik penyampaian bahan pelajaran kepada siswa-siswi, ini dimaksudkan agar siswa-siswi dapat menangkap pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicernakan anak dengan baik. Oleh karena itu terdapat berbagai cara yang dapat ditempuh. Dalam memilih cara/ metode ini guru dibimbing oleh filsafat pendidikan yang dianut guru dan tujuan pelajaran yang hendak dicapai, disamping itu penting pula memperhatikan hakekat anak didik yang hendak di didik, dan bahan pelajaran yang hendak disampaikan. Jadi metode itu hanyalah menentukan prosedur yang akan di ikuti. Melihat dari perkembangan zaman yang telah membuktikan tentang keberadaan pembelajaran Al-Qur’an yang berkembang pesat baik ditinjau dari segi metode dan waktu serta pembelajarannya. Agama islam memerintahkan kepada umatnya untuk mempelajari serta mengajarkan kitab suci Al-Qur'an, karena Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber ajaran islam yang mencakup segala aspek kehidupan manusia. Tugas ini menjadi tanggung jawab kita semua khususnya orang tua dan guru. Salah satu problem yang cukup mendasar adalah kondisi obyektif umat islam dewasa ini, salah satunya adalah buta akan Al-Qur'an yang menunjukkan indikasi prestasi Abuddin Nata, Metodologi Study Islam, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 2003, , 290 Zakiyah Darajat, dkk, Metodologi Pengajaran Agama Islam Jakarta Bumi Aksara, 1993 ,50 Fathor Rosi Faisal Faliyandra 38 Jurnal Auladuna meningkat, hal ini perlu segera diatasi, maka giliran umat islam akan mengalami kemunduran diberbagai bidang. Dalam penerapan pembelajaran Al- quran, perlu adanya pengelelolaan yang baik dan inovativ guna mendapatkan hasil yang baik. pengelolaan merupakan perencanaan, perorganisasian, pergerakan, pengawasan, dan evaluasi dalam kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh pengelola pendidikan untuk membentuk peserta didik yang berkualitas sesuai dengan tujuan. dalam hal ini guru sebagai pengelola berperan dalam melakukan pembelajaran dengan mengarahkan anak didiknya untuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka perubahan tingka laku berupa kognitif, efektif, dan psikomotorik. Ditinjau dari segi ajaran agama Islam dalam hadist disebutkan bahwa manusia sejak lahir telah dibekali oleh Allah dengan adanya fitrah beragama, yang berbunyi  Artinya"Setiap anak dilahirkan itu telah membawa fitrah beragama perasaan percaya kepada Allah maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama yahudi, nasrani atau majusi." Baihaki. Di dalam Islam melaksanakan pendidikan agama merupakan amalan ibadah kepada-Nya. Hal ini banyak sekali ayat-ayat Al-Qur'an atau Hadits yang menunjukkan perintah sebagaimana dalam Surat An Nahl ayat 125 yang berbunyi   .Artinya“Serulah manusia kejalan agama Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan pengajaran yang baik, dan bebantahlah berdebatlah dengan mereka dengan jalan yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui oaran-orang yang mendapat petunjuk.” Dari ayat dan hadits diatas memberikan konklusi kapada kita bahwa ajaran Islam terdapat perintah untuk mendidik anak berdasar agama, sedangkan salah satu materi pendidikan agama adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca Al- Qur'an. Berdasarkan uraian diatas maka artikel ini akan membahas pentingnya pembelajaran Al-qur’an bagi siswa madrasah ibtida’iyah sebagai upaya penanaman dan peningkatan serta pemahaman keagamaan bagi siswa madrasah ibtida’iyah sederajad. PEMBAHASAN 1. Konsepsi pembelajaran Al-Qur’an. Sebelum membahas tentang pembelajaran Al-Qur’an, terlebih dahulu diuraikan tentang pengertian dari istilah tersebut. Pembelajaran Al-Qur’an terdiri dari dua kata yakni “kata Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Jurnal Auladuna 39 pembelajaran”dan “kata Al-Qur’an”. Kata pembelajaran yang kami analisa adalah pembelajaran dalam arti membimbing dan melatih anak untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar serta dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata pembelajaran, sebelumnya dikenal dengan istilah pengajaran. Dalam bahasa arab di istilahkan “ta’lim” dalam kamus inggris Elias dan Elias diartikan “to teach; to educated; to intruct; to train” yaitu mengajar, mendidik, atau melatih. Pengertian tersebut sejalan dengan ungkapan yang dikemukakan Syah, yaitu “allamal ilma”. Yang berarti to teach atau to intruct mengajar atau membelajarkan. Pembelajaran disebut instruction yaitu proses kependidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan. Dan mengistilahkan pembelajaran sebagai upaya untuk membelajarkan pebelajar anak didik. Kata pembelajaran tersebut tidak dapat dipisahkan dengan masalah belajar. Karena sebagai objek dari pembelajaran, maka anak didik mempunyai tugas untuk memberdayakan kemampuannya dalam melaksanakan kegiatan belajar. Mengenai belajar ini ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli, yaitu a. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. b. belajar adalah suatu kegiatan anak didik dalam menerima, menganggapi, serta menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh pengajar, yang berakhir pada kemampuan untuk menguasai bahan pelajaran yang telah disajikan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan pembelajaran adalah suatu proses belajar-mengajar yang direncanakan sebelumnya dan diarahkan untuk mencapai tujuan melalui bimbingan, latihan dan mendidik. Sedangkan Al-Qur’an diambil dari bahasa arab yakni “Qara’a, Yaqro’u, Qiroatan atau Qur’anan” yang berarti menghimpun huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian yang lain secara menyatakan kata Al-Qur’an diambil dari kata Qarana yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain, karena surat, ayat dan huruf-hurufnya beriringan yang Abdul, Irfan, Ghafar, dan Muhammad, Jamil, Reformulasi Racangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Jakarta Nur Insani, 2003 ,72 Slameto, Proses Belajar Mengejar Jakarta Bumi Aksara,1999 ,24 M. Arifin, Ramayulis ilmu pendidikan islam jakarta kalam abditama,1976, 26 Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar surabaya media, 1996 , 45 Fathor Rosi Faisal Faliyandra 40 Jurnal Auladuna satu dengan yang lain dan ada pula yang mengatakan Al-Qur’an berasal dari kata Qara’in mengingat bahwa ayat Al-Qur’an satu sama lainnya saling kedua pendapat tersebut dapat diketahui bahwa Al-Qur’an harus dibaca dan diusahakan untuk dimengerti isinya, hal ini sesuai dengan firman Alloh SWT dalam surat Shaad ayat 29   Artinya “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran”QS. Shaad 29. Menurut istilah ini merupakan rumusan definisi Al-Qur’an yang dipandang dapat diterima oleh para ulama’, terutama oleh para ahli figh, ahli bahasa dan ushul fiqih. Dari pengertian tersebut bahwa membaca Al-Qur’an tidak sama dengan membaca buku atau majalah, sebab membaca Al-Qur’an saja sudah termasuk ibadah. Al-Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan diiwahyukan kepada nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril, yang merupakan mu’jizat, yang diriwayatkan secara mutawatir, yang ditulis di mushaf, dan membacanya adalah ibadah. sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam hidup dan kehidupannyaDari definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW bukan sekedar mukjizat saja tetapi disamping itu untuk dibaca, dipahami, diamalkan, dan dijadikan sumber hidayat dan pedoman bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. sedangkan pembelajaran Al-Qur'an merupakan proses perubahan tingkah laku anak didik melalui proses belajar yang berdasarkan kepada nilai-nilai Al-Qur'an karena dalam Al-Qur’an terdapat berbagai peraturan yang mencakup seluruh kehidupan manusia diantaranya Ibadah dan Muamalah. 2. Macam-macam metode Pembelajaran Al-Qur'an.. Untuk kegiatan belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah hanya sejumlah metode tertentu saja yang mungkin dapat diterapkan, mengingat tingkat perkembangan anak yang masih dini, yaitu usia 6-12 tahun. Penerapan metode pengajaran itu pun harus dilandasi dengan prinsip "Bermain sambil belajar" atau "Belajar sambil Bermain". Oleh karenanya metode tersebut perlu dikiat-kiat khusus berdasarkan pengalaman guru yang bersangkutan. Salah satu kemungkinannya adalah dengan cara memadukan sejumlah metode pertemuan, atau divariasi dengan pendekatan seni tersendiri yaitu dengan seni bermain, bernyanyi, dan bercerita. Zaini,syahminan. 1999kewajibanorang beriman terhadap al quran surabaya al ikhlas,1999 , 32 Ahmad, Syarifuddin, Mendidik Anaka Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Qur’an Jakarta Gema Insani, 2004 , 78 Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Jurnal Auladuna 41 Dalam hal ini metode megajar merupakan komponen yang penting dalam proses belajar mengajar, meskipun metode ini tidak akan berarti apa-apa bila dipandang terpisah dari komponen-komponen yang lain, dengan pengertian bahwa metode baru dianggap penting dalam hubungannya dengan semua komponen pendidikan lainnya, seperti tujuan materi evaluasi, situasi dan lain-lainMetode adalah suatu alat untuk mencapai tujuan dalam proses pembelajarannya mempunyai metode tersendiri. Metode pembelajaran Al-Qur'an secara umum yang bekembang dimasyarakat adalah sebagai berikut a. Metode Tradisional Qawaidul Baghdadiyah Metode ini paling lama digunakan dikalangan ummat Islam Indonesia dan metode pengajaran memerlukan waktu yang cukup lama. Adapun pengajaran metode ini adalah anak didik terlebih dahulu harus mengenal dan menghafal huruf hijaiyah yang berjumlah 28 selain Hamzah dan Alif. Sistem yang diterapkan dalam metode ini adalah 1 Hafalan yang dimaksud adalah siswa-siswi diberi materi terlebih dahulu harus menghafal huruf hijaiyah sebanyak 28. lalu ditambahi materi-materi yang lain. 2 Eja maksudnya adalah eja ini harus dilakukan oleh siswa sebelum membaca perkalimat. Hal ini dilakukan ketika belajar pada semua materi. Contoh  ABAtidak langsung di baca AbAtetapi dieja terlebih dahulu; Alif fatha A, Ba' fatha Ba jadi ABA 3 Modul adalah siswa terlebih dahulu menguasai materi, kemudian ia dapat melanjutkan materi berikutnya tanpa menunggu siswa yang lain. 4 Tidak Variatif tidak berjilid tetapi menggunakan satu buku. 5 Pemberian contoh yang Absolut Seorang guru dalam memberikan bimbingan terlebih dahulu, kemudian anak didik mengikutinya, sehingga anak didik tidak diperlukan bersifat kreatif. b. Metode Iqra' Metode pengajaran ini pertama kali disusun oleh H. As'ad Human, di Yogyakarta. Dalam metode ini garis besar sistem ada dua yaitu buku Iqra' untuk usia TPA, dan buku Iqra' untuk segala umur yang masing-masing terdiri dari 6 jilid ditambah buku pelajaran tajwid praktis bagi mereka yang telah tadarrus Al-Qur'an. Selain itu terdapat pula doa sehari-hari, surat-surat pendek, ayat-ayat pilihan, praktek sholat, cerita dan menyanyi yang islami, dan menulis huruf-huruf Al-Qur'an. System ini dibagi menjadi tiga kelompok kelas atas, telas tengah dan kelas bawah dengan Zuhairini, metode khusus pendidikan agama surabaya usaha nasional,1993, 63 Fathor Rosi Faisal Faliyandra 42 Jurnal Auladuna berdasarkan kelas dan kemampuan anak didik, dengan waktu pendidikan selama satu tahun yang dibagi menjadi dua semester sama dengan mata pelajaran kelas lainnya. Metode Iqra' adalah suatu metode membaca Al-Qur'an yang menekankan langsung pada latihan membaca, sedangkan buku panduan Iqra' terdiri dari 6 jilid dari tingkatan sederhana, secara bertahap sampai pada tingkatan sempurna. Prinsip-prinsip dasar metode Iqra' terdiri dari lima tingkatan pengenalan yaitu 1 Tariqat Asshautiyah penguasaan atau pengenalan bunyi. 2 Tariqat Adtadrij pengenalan dari yang mudah pada yang sulit. 3 Tariqat Biriyadhotil Athfal pengenalan melalui latihan-latihan dimana lebih menekankan pada anak didik untuk aktif. 4 Attawassuk Fi Maqosid La Fil Alat adalah pengajaran yang berorientsi pada tujuan bukan pada alat yang dipergunakan untuk menacapi tujuan itu. Yakni anak bisa membaca Al-qur'an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah kaidah tajwid yang ada. 5 Tariqot Bimuraat Al Isti'dadi Wattabik adalah pengajaran yang harus memperhatikan kesiapan, kematangan, potensi dan watak anak didikSedangkan sifat metode Iqra' adalah bacaan lansung tanpa di eja, artinya tidak diperkenalkan nama-nama huruf hijaiyah. Dengan cara belajar siswa aktif CBSA dan lebih bersifat individual. Tujuan dari pengajaran Iqra' adalah untuk menyiapkan anak didik menjadi generasi yang qur'ani yaitu generasi yang mencintai Al-Qur'an, komitmen dengan Al-Qur'an dan menjadikannya sebagai bacaan dan pandangan hidup sehari-hari. Sedangkan target operasionalnya adalah sebagai berikut a Dapat membaca dengan benar, sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid. b Melakukan sholat dengan baik dan terbiasa hidup dalam suasana yang islami. c hafal beberapa surat-surat pendek, ayat-ayat pilihan dan doa sehari-hari dapat menulis huruf Al-Qur’anc. Metode Qiroati. Metode ini disusun oleh H. Ahmad Dahlan Salim Zarkasyi, semarang. Terbitan pertama pada tanggal 1 Juli 1986 sebanyak 8 jilid. Setelah dilakukan revisi dan ditambah materi yang cocok. Metode qiro’ati adalah suatu metode membaca Al-Qur'an yang langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Dalam pengajarannya metode Budiyanto, Prinsip-Prinsip Metodologi Buku Iqra’ Balai Penelitian Dan Pengembagan Sistem Pengajaran Baca Tulis Al-Qur’an LPTQ Nasional Yogyakarta Team Tadarrus,1995, 15 Human, As’ad, dkk, Pedoman Pengelolaan Pengembangan Dan Pembinaan Membaca Dan Menulis Al-Qur’an Yogyakarta LPTQ Nasional,1991,14 Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Jurnal Auladuna 43 qiroati, guru tidak perlu memberi tuntunan membaca, namun langsung saja dengan bacaan pendek. Adapun tujuan pembelajaran qiro’ati ini adalah sebagai berikut 1 Menjaga kesucian dan kemurnian Al-Qur’an dari segi bacaan yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. 2 Menyebarluaskan ilmu membaca Al-Qur’an. 3 Memberi peringatan kembali kepada guru ngaji dalam mengajar Al qur’an 4 Meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an. Sedangkan target operasionalnya adalah sebagai berikut 1 Dapat membaca Al-Qur’an dengan tartil meliputi a Makhroj dan sifat huruf sebaik mungkin. b Mampu membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan gharib dalam praktek 2 Mengerti sholat, dalam arti bacaan dalam praktek sholat. 3 Hafal beberapa hadist dan surat pendek. 4 Hafal beberapa do’a. 5 Dapat menulis huruf Arab. Adapun prinsip pembelajarannya di bagi dua yaitu yang dipegang oleh guru dan yang dipegang oleh siswa-siswi. Prinsip yang dipengang guru adalah Ti-Wa-Gas Teliti, Waspada, dan Tegas. 1 Teliti adalah dalam menyampaikan semua materi pelajaran. 2 Waspada adalah terhadap bacaan siswa-siswi yakni, bisa mengkoodinasikan antara mata, telinga, lisan dan hati. 3 Tegas adalah disiplin dan bijaksana terhadap kemampuan siswa-siswi. Sedangkan yang dipegang siswa-siswi adalah menggunakan sistem cara belajar siswa aktif CBSA dan lancar, cepat, tepat, dan benar LCTB .Dalam metode ini dikenal beberapa bentuk dalam pelaksanaannya, yaitu 1 Sorogan, individual atau privat. 2 Siswa-siswi bergiliran satu persatu untuk mendapatkan pelajaran membaca dari Guru. berdasarkan kemampuan siswa yang ada yang 2,3 atau 4 halaman. 3 Klasikal- individual Sebagian waktu dipergunakan untuk menerangkan pokok pelajaran, sekedar satu atau dua halaman dan seterusnya. Sedangkan membacanya sangat ditekankan, kemudian di nilai prestasinya pada lembar data. Achrom, Nur Shodiq, pendidikan dan pengajajaran. Jakarta Bumi Aksara,1996, 12 Fathor Rosi Faisal Faliyandra 44 Jurnal Auladuna 4 Klasikal baca simak. Dalam bentuk ini guru menerangkan bentuk pelajaran klasikal kemudian siswa di tes satu persatu dan di simak oleh semua siswa, kemudian dilanjutkan pelajaran berikutnya dengan cara yang sama sampai pelajaran selesai. Untuk sorogan dapat diterapkan pada kelas yang terdiri dari jilid untuk satu kelas. Sedangkan klasikal-individual dan klasikal baca simak hanya bisa diterapkan untuk kelas yang hanya terdiri dari satu jilid saja. 3. Pentingnya Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Anak Diketahui bahwa kemampuan membaca Al-Qur'an secara fasih benar adalah bagian terpenting dalam pendidikan Islam. Karena itu, maju mundurnya kemampuan anak-anak dari keluarga muslim dalam membaca Al-Qur'an dapat dijadikan sebagai salahsatu ukuran untuk menilai kondisi dunia pendidikan Islam serta kesadaran masyarakat dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran IslamMasa anak-anak adalah masa dimana anak masih tergantung pada keadaan dimana anak tinggal. Pada masa ini anak harus menunjukkan kepada dunia luar tentang bakat dan kemampuan yang ada pada dirinya. Dan dia harus belajar mengoptimalkan segala potensi yang ada pada dirinya. Agar semua potensi dapat tersalurkan dengan baik, maka perlu suatu lingkungan yang positif, karena hal-hal baik positif maupun negatif sangat berpengaruh pada anak tersebut. Pada masa ini banyak anak-anak yang mengalami kesukaran dan menyebabkan kesehatannya terganggu, dan kadang melakukan tindakan yang bermacam-macam. apabila problem dan kesukaran yang dihadapi anak tidak selesai dan masih membuat gelisah sampai dewasa, maka usia dewasa akan mengalami kegelisahan dan kecemasan sampai dewasa adalah bagian dari keluarga, keluarga merupakan pengaruh sosialisasi yang penting, tidak hanya lebih banyak kontak dengan anggota keluarga dari pada dengan orang lain, tetapi hubungan itu lebih erat, hubungan keluarga ini pengaruhnya lebih besar dari pada pengaruh sosial lainnyaAdapun hadist yang memerintahkan untuk memepelajari dan mengajarkan Al-Qur'an antara lain   Zakiyah, Derajat, Ilmu Pendidikan Islam Jakarta Bumi Aksara,1996 , 134 Zakiyah, Derajat, Kesehatan metal Jakarta Gunung agung,1990, 102 Hurlouck dan elizabetr, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Jakarta PT Erlangga,2002 , 130 Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Jurnal Auladuna 45 Artinya " Abu Ummah ra, berkata saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda bacalah Al-Qur'an karena ia akan datang pada hari raya qiyamat sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya".HR. Muslim. Menyadari akan pentingnya Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, maka perlu dibaca, dipelajari dalam keluarga. Tanggung jawab orang tua ada dua, artinya tanggung jawab yang diterima secara kodrati, karena merekalah yang melahirkan dalam keadaan kekurangan dan ketergantungan dalam segala hal. Maka apabila orang tua tidak melaksanakan tanggung jawabnya, pastilah anak itu tidak akan bisa hidup. Sedangkan tanggung jawab keagamaan artinya berdasarkan agama, menurut Islam, tanggung jawab ini bermula dari proses pembuatan spserma dan ovum. Dan setelah lahir, datanglah tanggung jawab orang tua dalam segala hal termasuk tanggung jawab orang tua untuk mengajarkan Al-Qur'an pada anak-anaknyaDalam Surat Al-Ankabut 45 perintah untuk membaca Al-Qur'an. . Artinya "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab Al-Qur'an dan dirikannlah sholat” QS. Al-Ankabut 147 Agama Islam memerintahkan kepada ummatnya untuk mengajarkan dan mempelajari kitab suci Al-Qur'an yang paling banyak, karena Al-Qur'an adalah sumber dari segala ajaran islam yang mencakup segala aspek kehidupan manusia, dan Al-Qur'an juga memberikan rahmat dan hidayah bagi ummat manusia didunia. Oleh karena itu peran orang tua sangat penting dalam menentukan perkembangan pendidikan anak terutama dalam bidang keagamaan. Kewajiban untuk mengajarkan Al-Qur'an terletak pada pundak setiap manusia yang mengaku beriman kepada Al-Qur'an karena tidak penting bagi seorang muslim tidak bisa membaca, mempelajari dan mengajarkannya. Selain mempelajari Al-qur'an yang tidak kalah pentingnya adalah mengajarkannya, jadi selain belajar dan mengajarkannya merupakan dua tugas mulia yang dibebankan kapada umat islam yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Sehubungan dengan pembelajaran Al-Qur'an bagi anak, maka belajar Al-Qur'an pada tingkat ini merupakan tingkat mempelajari Al-Qur'an tentang membaca hingga fasih dan lancar, sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Karena kemampuan membaca Al-Qur'an merupakan kemampuan yang utama dan pertama yang harus dimiliki oleh anak. Sebagainama firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 16-17  . Syahminan, Zaini, Wawasan Al-Qur’an tentang Pembangunan Manusia Seutuhnya Surabaya Kalam Mulia,1986 , 147 Fathor Rosi Faisal Faliyandra 46 Jurnal Auladuna Artinya "Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur'an dengan cepat-cepat atau menguasainya. Sesungguhnya tanggungan kamilah mengumpulkannya didadamu dan membuat pandai membacanya." QS. Al-Qiyamah 16-17 Bila kita mengamati gejala yang terjadi didunia barat kita dapat melihat bagaimana kecenderungan anak-anak untuk tidak beradab, mendurhakai orang tua, cepat marah dan sangat emosional serta agresif, keseluruhan itu merupakan akibat dari orang tua yang memberikan kebebasan berlebihan dan memanjakan anak-anak terutama tanda tersebut daiatas merupakan bukti gagalnya usaha-usaha pendidikan barat yang begitu modern untuk menyelamatkan anak-anak dan umat manusia dari kedholiman dan kegelapanOleh karena itu, diperlukan bimbingan yang bijaksana baik dari orang tua maupun dari para pendidik, agar ketika dewasa nanti anak tidak merasa canggung dan ketakutan melalui pengalaman baru dalam hidupnya. Pentingnya Guruan keagamaan pada anak tidak lain adalah sebagai usaha yang bersifat preventative yaitu usaha atau upaya terhadap pemecahan kenakalan anak dengan mengadakan Guruan terhadap mereka agar tecipta ketentraman batin dn mempunyai pegangan atau pedoman dalam hidupnya, selain itu juag sebgai uasaha kuratif perbaikan terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada. a. Pembelajaran tersebut harus dimulai dari keluarga melalui pendidikan antara lain 1 Memberikan contoh atau teladan yang baik. 2 Membiasakan mereka dengan syair-syair agama. 3 Meyiapkan kondisi rumah yang agamis. 4 Memberikan bimbingan bacaan-bacaan agama yang berguna. 5 Membisakan mereka turut serta dalam kegiatan agama. 6 Menanamkan kecintaan terhadap mereka senang membaca Al-Qur'anKetika keluarga telah menunaikan hal-hal tersebut, maka orang tua telah menjalani petunjuk Al-Qur'an, sunnah dan peninggalan salafu sholihin, yang semuanya mengajak untuk melaksanakan pendidikan iman dan aqidah yang benar. Maka dari itu menentukan metode itu sangat penting dalam mendidik anak didik. Karena berhasil tidak suatu pembelajaran itu tergantung pada metode yang digunakan oleh pendidik. Sebagaimana yang diharapkan dari pembelajaran tersebut antara lain 1 Anak dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar berdasarkan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Abdurahman , An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat Bandung CV. Diponogoro,1992, 193 Langgulung, Teori kesehatan mental Selangor Pustaka Huda, 1983 ,372 Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Jurnal Auladuna 47 2 Anak dapat menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar. 3 Anak dapat menghafal surat-surat pendek dan do’a-do’a yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. 4 Anak dapat melakukan sholat dengan baik serta terbiasa hidup dalam suasana Islami. Dengan demikian usaha preventatif dan kuratif harus dilaksanakan dirumah, sekolah dan masyarakat. Guruan tersebut harus berjalan terpadu dan kontinyu, seiring sejalan serta bersifat saling melengkapi baik itu pendidikan agama dan penciptaan suasana yang sesuai dengan nilai-nilai agama adalah merupakan alat yang ampuh untuk membentengi anak jatuh kejurang kenakalan yang membahayakan. 4. Pengembangan Metode Pembelajaran Al-Qur’an Dalam Rangka Peningkatan Perkembangan Keagamaan Anak Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan anak didik. Dalam definisi ini terkandung makna bahwa dalam pembelajaran tersebut ada kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode atau strategi yang optimal untuk mengapai hasil pembelajaran yang diinginkan dalam kondisi tertentu. Sedangkan metode atau strategi pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil yang berbeda dibawah kondisi pembelajaran yang berbeda pula. Berkaitan dengan pembelajaran al-Qur’an, maka setiap pembelajaran pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai sebagaimana di dalam buku petunjuk teknis dan pedoman Guruan baca tulis Al-Qur’an dinyatakan bahwa tujuan pebelajaran atau pendidikan baca tulis Al-Qur’an adalah menyiapkan genarasi yang mencintai Al-Qur’an, menjadikan al-Qur’an sebagai bacaan dan sabagai pandangan hidup dalam kehidupan sehari-hari. Dari tujuan tersebut target operasionalnya antara lain a. Untuk kelas I-II anak diharapkan dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar serta hafal beberapa surat pendek dan doa sehari-hari. b. kelas III-IV anak diharapkan menghatamkan Al-Qur’an 30 juz, mampu memperaktekkan lagu-lagu dasar qiro’ati dan mampu menjadikan dirinya sebagai tauladan bagi teman-teman sebayanya atau segenerasinya. c. Dan untuk kelas V-VI sudah mampu dan punya keinginan menghafal juz 30. Dari target tersebut pendidikan baca tulis Al Qur’an banyak berorientasi pada Guruan kognitif dan psikomotorik saja, sedangkan Guruan afektif atau sikap, cita rasa beragama belum Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam Surabaya Pusat Studi Agama, Politik Dan Masyarakat PSAPM,2003,82 Muhaimin. Arah Baru Pengembangan Kurikulum; Hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan Bandung Penerbit Nuansa,2003, 121 Fathor Rosi Faisal Faliyandra 48 Jurnal Auladuna banyak ditonjolkan. Berdasarkan hal tersebut, maka metode pembelajaran Al-Qur’an harus dikembangkan sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman terutama pembelajaran Al-Qur’an pada pendidikan dasar. Untuk aspek kognitif dan psikomotorik digunakan metode yang sudah canggih yaitu metode Iqra’ dan metode Qira’ati. Akan tetapi kedua metode tersebut dapat dikembangkan baik aspek kognitif, afektif dan psikomorik siswa MI. 1 Metode Iqra’ Yang dimaksud adalah suatu metode membaca Al-Qur’an yang lebih menekankan langsung pada latihan membaca. Sifat dari metode ini adalah bacaan langsung tanpa di eja artinya tidak diperkenalkan terlebih dahulu nama-nama huruf hijaiyah. Dengan dengan belajar siswa aktif CBSA dan lebih bersifat individualBertolak dari pemahaman tersebut metode iqra’ masih mencakup pada dua aspek yaitu aspek psikomorik dan kognitif saja. Agar semua aspek tercapai, maka perlu adanya variasi dalam penggunaan metode. Untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan pada anak tingkat dasar yakni melalui pembelajaran Al-Qur’an. Dalam pendidikan agama islam perlu beberapa metode-metode pendekatan yang tidak dapat disamakan dengan metode pendidikan pada umumnya. Beberapa metode tersebut adalah a Metode pendekatan pendidikan dengan keteladanan. Keteladanan dalam pendidikan adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam moral spiritual dan sosial. Hal ini adalah karena pendidik adalah sebagai contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditirunya dalam tondak tanduknya. Allah SWT telah mengajarkan dan dia adalah peletak metode samawi yang tiada taranya bahwa rasul yang diutus untuk menyesuaikan risalah samawi kepada ummat. Rasulullah adalah seorang yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual moral maupun intelektual. oleh karena itu Allah Mengutus sebagai teladan bagi umat muslim. Seperti surat Al-Ahzab ayat 21 yaitu    Artinya sesungguhnya para rasul Allah Muhammad adalah panutan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan pahala Allah dan hari kemudian, serta ia banyak mengingat Allah. b Metode pendekatan dengan pendidikan kebiasaan atau pembiasaan. Budiyanto, Prinsip-Prinsip Metodologi Buku Iqra’ Balai Penelitian Dan Pengembagan Sistem Pengajaran Baca Tulis Al-Qur’an LPTQ Nasional Yogyakarta Team Tadarrus,1995 , 20 Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Jurnal Auladuna 49 Yang dimaksud dengan pembiasaan adalah upaya praktis dalam Guruan dan persiapan. Karena kecenderungan dan naluri anak-anak dalam pembiasaan ini sangat besar dibanding usia lain. Maka para pendidik perlu memperhatikan pada anak tentang upaya pembiasaan ini sebagaimana dikemukakan oleh Jalaluddin bahwa “Sikap dan keteladanan guru sebagai pergaulan pendidik serta pergaulan antar teman disekolah dinilai lebih berperan dalam menanamkan kebiasaan baik merupakan bagian dari pemebntukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan keagamaan seseorangMaka dari itu pembiasaan ini banyak hendaknya dilakukan secara kontinyu dalam arti melatih dengan tidak jemu-jemunya. Pembiasaan yang perlu ditanamkan melalui proses pendidikan adalah kebiasaan yang bersifat otomatis dan kebiasaan yang dilakukan atar dasar pengertian dan kesadaran akanm manfaat atau tujuannya c Metode pendekatan pendidikan dengan nasehat dan cerita. Nasehat dan cerita dalah cara mendidik yang mengandalkan bahasa, baik lisan maupun tertulis dalam mewujudkan interaksi antara pendidik dengan anak didik subyek didik cara ini banyak ditemui dalam Al-Qur’an, karena dengan nasehat dan cerita pada dasarnya bersifat penyampaian pesan dari sumbernya kepada pihak yang memerlukan. Demikian banyak cerita yang mengandung nasehat, pelajaran dan petunjuj yang sungguh-sungguh efektif untuk dipergunakan dalam interaksi pendidikan. Cerita dan nasehat itu jika disampaikan secara baik akan besar pengaruhnya pada perkembangan psikologis anak. Metode ini dapat membukakan mata anak-anak pada hakekatnya sesuatu yang mendoronya menuju situasi luhur dan menghiasinya dengan ajhlak yang mulia dan prinsip islam. Al-Qur’an juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide-ide yang dikehendakinyad Metode pendekatan dengan pemeliharaan. Yang dimaksud pemeliharaan adalah mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak terhadap pendidikan yang telah diterimanya. Perhatian dengan menyediakan waktu yang cukup untuk bergaul dengan anak-anaknya. Kasih sayang yang diberikan secara tulus, sehingga menampilakan kerelaan dalam memelihara dan melindungi anak subyek dengan pendidik. Kewibawaan diartikan dengan rasa hormat dan segan yang menimbulkan kepatuhan. Cara pemeliharaan ini dapat dilakukan dengan cara targhib dan tarhib. Targhir adalah dengan janji terhadap kesengan, kenikmatan akhirat di sertai dengan bujukan. Tarhib adalah ancaman Jalaluddin, Psikologi Agama Jakarta PT. Raja Grafindo Persada,2002, 44 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam Jakarta Kalam Abditama,2002, 171 Shihab, Quraisy, Membumikan Al-Qur’an Bandung Mizan,1994 , 176 Fathor Rosi Faisal Faliyandra 50 Jurnal Auladuna karena dosa yang dilakukan. Metode ini didasarkan atas fitrah sifat keadaan manusia, yaitu sifat keinginan kepada kesenangan,keselamatan dan tidak mengiginkan kepedihan dan kesengsaraan2 Metode Qira’ati Yang dimaksud adalah suatu metode membaca Al-Qur’an yang langsung memasukkan dan memperaktekkan bacaan tartil sesuai sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Sistem pelaksanaannya adalah sistem belajar siswa aktis CBSA dan lancar, cepat, tepat, dan benar LCTB. Dalam menanamkan nilai-nilai agama melalui pembelajaran Al-Qur’an tidak beda jauh dengan metode Iqra’ begitu juga cara penyampainannya. Yaitu dengan beberapa metode yang di pakai dalam pendidikan agama pada umummya, mengingat karakter dan kemampuan yang sangat minim antara lain ketauladanan, indotrinasi, tarnsinternalisasi dan lain-lain. Berdasarkan pemahaman karakteristik keagamaan anak dan kendala-kendala tersebut, maka pembelajaran atau pendidikan nilai sikap dan cita rasa keagamaan dalam pembelajaran Al-Qur’an adalah melalui strategi ketaladanan dan transinternalisasi karena ajaran agama yang diberikan kepada anak bukan sekedar pengajaran dan pemeberian pengertian yang muluk-muluk, karena keterbatasan pengalaman, kemampuan atau kesanggupan anak dalam perbendaharaan bahasa atau kata-kata, disamping anak-anak belum biasa berfikir abstrak. Sesuai dengan karakterstiknya, maka pendidikan keagamaan pada anak lebih bersifat teladan atau peragaan hidup secara riil, karena anak belajar dengan cara melihat, mendengar, dan meniru-niru, meyesuaikan dan mengintegrasikan dalam suatu pendidik yang diikuti dengan latihan-latihan keagamaan dan pembasaan oleh anak-anak akanlebih meresap. Dalam pemberian keteladanan tersebut dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Yang bersifat langsung misalnya pendidik memberikan contoh bagaimana sikap membaca Al-Qur’an yang baik, sikap sholat yang baik, sikap memberi perindungan aman, sebelum dan sesudah keluar atau masuk sekolah mengucapkan salam, doa dan seterusnya. Yang bersifat tidak langsung misalnya tampilan fisik dan pribadi pendidik dan tenaga lainnya yaitu dengan suasana agamis, disiplin, menyambut anak-anak dengan dengan lagu-lagu islami. Sedangkan strategi transinternalisaisi dapat diterapkan melalui beberapa tahap antara lan a Transformasi nilai, pendidik menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik kepada anak melalui komunikasi verbal. Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam Bandung PT Remaja Rosda Karya,2002 , 46 Achrom, Nur , Shodiq, pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an Sistim Qoidah Qiro’aty Pondok pesantren Salafiyah Shirotul Fuqoha’ II Ngembul Kalipare, 1996 , 18 Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Jurnal Auladuna 51 b Transaksi nilai, suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah yakni tmbal balik antara pendidik dan anak didik. c Transinternalisasi, pendidik dihadapan anak bukan lagi sosok fisik melainkan sikap mentalnya kepribadiannya. Dari beberapa strategi atau metode tersebut tidak akan berjalan dengan baik kalau tidak didukung dengan sarana dan prasarana, oleh karena itu agar tujuan yang diharapkan tercapai maka keduanya harus saling mendukung PENUTUP Sebagaimana pembahasan tentang pentingnya pembelajaran Al qur’an bagi siswa madrasah ibtidaiyah MI maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; 1 Penerapan metode pembelajaran Al-Qur'an pada siswa MI yang paling relevan yakni menggunakan metode Iqro’, Qiro'ati dan Taqriran, pembiasaan, ketauladanan, latihan, hafalan, dan pemberian tugas, serta bermain, cerita dan menyanyi BCM. Kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik, seperti dalam hal baca tulis Al-qur'an, akan tetapi perlu ditingkatkan dengan pemahaman dan implementasi nilai-nilai agama, sesuai dengan tujuan yang diharapkan serta tuntutan maupun perkembangan zaman. sehingga melalui metode tersebut maka lulusan siswa-siswi akan lebih berprestasi dalam bidang formal dan non formal terutama membaca dan menulis Al-qur'an serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari; 2 Dibutuhkan kerjasama semua pihak khususnya langkah-langkah yang dilakukan para guru menerapkan metode pembelaran al qur’an dalam meningkatkan perkembangan keagamaan anak diantaranya yang dapat dilakukan antara lain, a bagi guru untuk meningkatkan kualitas guru, b untuk dapat kordinasi dan evaluasi dengan para guru maupun dengan wali Murid, c bagi siswa-siswi, untuk mengikut sertakan siswa-siswi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, membimbing anak dengan bacaan-bacaan Islami, menanamkan kebiasaan-kebiasaan beribadah, mengadakan kegiatan ekstra, seperti Qiro'ah, kaligrafi, dan PHBI, dan memberikan contoh yang baik bagi siswa dan Penambahan jam pelajaran; 3 Faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran Al qur’an, a faktor pendukung sarana dan prasarana yang memadai, kerjasama dan kebersamaan antar guru, antusias siswa-siswi dengan suasana yang agamis, dan kegiatan-kegiatan ekstra keagamaan serta praktiknya, b faktor penghambat yaitu kurang perhatian dan kerjasama dari sebagian wali murid dan keterbatasan waktu dan penggunaan HP android. DAFTAR PUSTAKA Achrom, Nur Shodiq, 1996, pendidikan dan pengajajaran. Jakarta . Bumi Aksara. Fathor Rosi Faisal Faliyandra 52 Jurnal Auladuna __________________ ,1996, pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an Sistim Qoidah Qiro’aty Pondok pesantren Salafiyah Shirotul Fuqoha’ II Ngembul Kalipare. Ahmad Syrifuddin, 2004, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai Al – Qur’an. Jakarta. GemaInsani. An-Nahlawi, Abdurahman, 1992 Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat ,Bandung . CV. Diponogoro. Arikunto, Suharsimi, 2006, prosedur penelitian suatu pendekatan praktik, jakarta. rineka cipta. ________ 2002. Menejemen Penelitian . Jakarta . Rineka Putra. Budiyanto. 1995. Prinsip-Prinsip Metodologi Buku Iqra’ Balai Penelitian Dan Pengembagan Sistem Pengajaran Baca Tulis Al-Qur’an LPTQ Nasional .Yogyakarta . Team Tadarrus. Derajat, Zakiyah. 1996. Ilmu pendidikan islam . Jakarta . Bumi Aksara. Ghafar, Irfan, Abdul, dan Jamil, Muhammad. 2003. Reformulasi Racangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam . Jakarta. Nur Insani. Hadi, Sutrisno ,1989. metodologi research jilid I & II . yogyakarta . Aordi. Hasanuddin. 1993. Moral dan Kognisi Islam . Bandung . Cv. Alfabeta. Huberman. 1992. analisis data kualitatif . jakarta . universitas jakarta press. Human, As’ad, dkk. 1991. Pedoman Pengelolaan Pengembangan Dan Pembinaan Membaca Dan Menulis Al-Qur’an. Yogyakarta . LPTQ Nasional. Hurlouck dan elizabetr. 2002. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan . Jakarta . PT Erlangga. Jalaluddin. 2002. Psikologi Agama . Jakarta . PT. Raja Grafindo Persada. Langgulung. 1983. Teori kesehatan mental . Selangor . Pustaka Huda. M. Arifin. 1976. Ramayulis ilmu pendidikan islam . jakarta . kalam abditama. Mahfudh Shalahuddin. 1990. Pengantar psikologi pendidikan. surabaya. bina ilmu. Maleong J, Lexy. 2002. Penelitian metode kualitatif . Bandung . PT Remaja Rosda Karya. Muhaimin. 1996. Strategi Belajar Mengajar . surabaya . media. ________. 2003. Strategi belajar mengajar . Surabaya CV. Citra Media Karya Anak Bangsa. ________ 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam . Surabaya . Pusat Studi Agama, Politik Dan Masyarakat PSAPM. ________ 2003. Arah Baru Pengembangan Kurikulum; Hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan . Bandung . Penerbit Nuansa. Ramayuli. 2002. Ilmu Pendidikan Islam . Jakarta . Kalam Abditama. Shihab, Quraisy. 1994. Membumikan Al-Qur’an . Bandung . Mizan. Urgensi Pembelajaran Al-Qur'an Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah Jurnal Auladuna 53 Slameto. 1999. Proses Belajar Mengejar . Jakarta . Bumi Aksara. Surakhmad. 1994. teknik analisis deskriptif . Surabaya . Karya. Syarifuddin, Ahmad. 2004. Mendidik Anaka Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Qur’an. Jakarta. Gema Insani. Tafsir, Ahmad. 2002. Metodologi Pengajaran Agama Islam . Bandung . PT Remaja Rosda Karya. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia . Jakarta Balai Pustaka. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. 2003. Surabaya . Pusat Studi Agama, Politik Dan Masyarakat PSAPM. Zaini, Syahminan. 1986. Wawasan Al-Qur’an tentang Pembangunan Manusia Seutuhnya . Surabaya . Kalam Mulia. _______. 1999. kewajibanorang beriman terhadap al quran . surabaya . al ikhlas. Zuhairini. 1993. metode khusus pendidikan agama . surabaya . usaha nasional. ... Maka sebuah kewajiban bagi muslim untuk belajar serta mengimplementasikan berbagai hukum Al-Qur'an di dalam kehidupannya Aprida, 2022. Namun fenomena saat ini, banyak anak yang mulai tidak tertarik dengan Al-Qur'an Rosi & Faliyandra, 2019. Salah satu sebabnya ialah, banyak hiburan yang sengaja diberikan mulai dari film, musik, dan permainan modern yang telah menjadi sebuah kewajaran atau hal biasa. ...... Fenomena lunturnya ketertarikan anak terhadap pembelajaran Al-Qur'an juga menyebabkan literasi, kemampuan, dan pemahaman terhadap Al-Qur'an semakin naik Rosi & Faliyandra, 2019. Menurut data dari PTIQ Perguruan Tinggi Ilmu Qur'an Jakarta, Indonesia dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia mengalami buta aksara Al-Qur'an sebesar 65% pada tahun 2017 Fajriah & Novira, 2021. ...Ahmada May Enggar RistaSri WahyuniIca PurnamasariThe development of the VUCA Era Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity causes rapid changes with factors that are difficult to control causing the phenomenon of declining literacy due to technological shifts. One of them is the phenomenon of the fading of interest and love for learning the Qur'an experienced by various age groups, ranging from children, adolescents and adults. Parents have difficulty in teaching the Qur'an to children in a fun way. This study aims to grow the ability of parents, enrich teaching methods, and provide practical steps that parents can follow in educating their children to love the Qur'an through Hands On Learning-based learning. The method used in this research is a 4D development model Define, design, develop, disseminate. Member of the parent forum at PT. Pendidik Muda Indonesia consist of ten members who have early childhood. Quantitative data were obtained from the results of the feasibility test as well as the readability of the material and design. Qualitative data were obtained from the analysis of descriptive questionnaire questions for parents' needs for learning the Qur'an for early childhood. The results of this development research obtained 1 a guide book for parents in learning the Qur'an for early childhood based on hands on learning, 2 the feasibility of the product developed based on the results of the research and the assessment of the validator in the very feasible category. Abstrak Berkembangnya Era VUCA Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity menyebabkan perubahan cepat dengan faktor-faktor yang sulit dikontrol menyebabkan fenomena menurunnya literasi akibat pergeseran teknologi. Salah satunya ialah fenomena lunturnya ketertarikan dan kecintaan terhadap pembelajaran Al-Qur’an yang dialami oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja maupun dewasa. Orang Tua mengalami kesulitan dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak dengan cara yang menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan orang tua, memperkaya metode mengajar, serta memberikan langkah praktis yang dapat diikuti Orang tua dalam mendidik anaknya agar mencintai Al-Qur’an melalui pembelajaran berbasis Hands On Learning. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah model pengembangan 4D Define, design, develop, disseminate. Anggota forum orang tua di PT. Pendidik Muda Indonesia terdiri dari sepuluh anggota yang memiliki anak usia dini. Data kuantitatif diperoleh dari hasil uji kelayakan serta keterbacaan materi dan desain. Data kualitatif diperoleh dari analisis pertanyaan deskriptif angket kebutuhan orang tua terhadap pembelajaran Al-Qur’an untuk anak usia dini. Hasil penelitian pengembangan ini diperoleh 1 buku panduan untuk orang tua dalam pembelajaran Al-Qur’an untuk anak usia dini berbasis hands on learning, 2 kelayakan produk yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian serta penilaian validator dalam kategori sangat dan pengajaran Al-Qur'an Sistim Qoidah Qiro'aty Pondok pesantren Salafiyah Shirotul Fuqoha__________________,1996, pendidikan dan pengajaran Al-Qur'an Sistim Qoidah Qiro'aty Pondok pesantren Salafiyah Shirotul Fuqoha' II Ngembul Kalipare.Ahmad SyrifuddinAhmad Syrifuddin, 2004, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai Al -Qur'an. Jakarta. Islam di RumahAbdurahman An-NahlawiAn-Nahlawi, Abdurahman, 1992 Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat,Bandung. CV. penelitian suatu pendekatan praktik, jakarta. rineka cipta. ________ 2002. Menejemen PenelitianSuharsimi ArikuntoArikunto, Suharsimi, 2006, prosedur penelitian suatu pendekatan praktik, jakarta. rineka cipta. ________ 2002. Menejemen Penelitian. Jakarta. Rineka DerajatDerajat, Zakiyah. 1996. Ilmu pendidikan islam. Jakarta. Bumi Racangan Pembelajaran Pendidikan Agama IslamGhafarAbdul IrfanMuhammad JamilGhafar, Irfan, Abdul, dan Jamil, Muhammad. 2003. Reformulasi Racangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta. Nur research jilid I & II . yogyakarta . AordiSutrisno HadiHadi, Sutrisno,1989. metodologi research jilid I & II. yogyakarta. 1993. Moral dan Kognisi Islam. Bandung. Cv. data kualitatif . jakarta . universitas jakarta pressHubermanHuberman. 1992. analisis data kualitatif. jakarta. universitas jakarta Pengelolaan Pengembangan Dan Pembinaan Membaca Dan Menulis Al-Qur'anHumanHuman, As'ad, dkk. 1991. Pedoman Pengelolaan Pengembangan Dan Pembinaan Membaca Dan Menulis Al-Qur'an. Yogyakarta. LPTQ Nasional.